Sebagai satu-satunya
agama yang komprehensif dan universal, Islam telah membangun pilarpilar
konstruksi ilmu manajemen pendidikan yang sangat imperatif bagi kehidupan
konkret sosial-kemasyarakatan secara holistik. Diyakini oleh seluruh Muslim,
lintas generasi dan wilayah, bahwa pelopor manajer pendidikan terbaik adalah
Rasulullah, sebagaimana telah diutarakan oleh Mu’awiyah bin Al-Hakam, “Aku
tidak pernah melihat seorang pendidik sebelum dan sesudahnya yang lebih baik
darinya.” [Shahih Muslim no. 836]
Rasulullah Muhammad SAW
telah meneladankan bagaimana manajemen pendidikan yang baik lagi konstruktif
bagi peradaban. Hingga Allah SWT secara langsung memberikan rekomendasi kepada
umat Islam.
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah
itu teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmah)
Allah dan (kedatangan) hari qiyamah dan dia banyak menyebut Allah.” [Al-Qur`an
surah Al-Ahzab ayat no. 21]
Sufyan bin ‘Uyainah
Al-Makki yang menyadari akan urgensitas eksistensi Rasulullah Muhammad dalam
segala sendi kehidupan, kemudian menetapkan Rasulullah sebagai standar
terbesar, “Sesungguhnya Rasulullah adalah standar terbesar. Segala sesuatu
(harus) ditimbang berdasarkan akhlak, sirah dan petunjuk beliau. Semua yang
sesuai dengannya, itulah kebenaran, dan yang menyelisihinya, itulah kebatilan.”
[Tadzkirat As-Sami’ wa Al-Mutakallim, Ibnu Jama’ah Al-Kinani, hal. 21]
Ungkapan Ibnu ‘Uyainah
ini bukan berarti menutup peluang inovasi. Inovasi selagi tidak bertentangan
dengan Islam, Islam tidak melarangnya, terlebih bila kontributif bagi peradaban
dan kejayaan Islam, dan inovasi tersebut tidak mendekonstruksi apalagi
mendesakralisasi nilainilai Islam. Ini terefleksi dalam ungkapan terakhir Ibnu
‘Uyainah.
Konsep
Dasar-dasar Manajemen Pendidikan dalam Perspektif Islam
Seperti diutarakan di awal, Islam telah
meletakkan dasar-dasar manajerisasi pendidikan, yang mana hal itu tersimpan
dengan baik dalam dokumen-dokumen sejarah Islam yang primer dan sekunder,
sayang sekali banyak sarjana Muslim, di Indonesia khususnya, yang belum
menggali dan mengungkapnya. Bermula dari kesadaran terhadap problem tersebut,
di sini akan dipaparkan dasar-dasar manajemen pendidikan dalam nilai-nilai
normatif dan historis Islam, yakni antara lain:
1)
Merujuk kepada literatur-literatur yang
kredibel dan akurat. Dengannya akan didapatkan sebuah produk pendidikan yang
multidimensional dan polyinterpretabel, sehingga dapat diabstraksikan pada
berbagai fragmen manajemen pendidikan. Pendidikan Islam senantiasa merujuk pada
dokumen primer yakni Al-Qur`an dan As-Sunnah, dengan tidak mengabaikan peranan
dokumen sekunder, seperti atsar, ijma’, qiyas, dan lain sebagainya yang tertera
dalam buku-buku para intelektual Muslim awal (Salaf). Hasilnya, output dan
outcome pendidikan akan lebih mampu survive dan berkompetisi.
2)
Penanaman keikhlasan dan ketulusan dalam
proses pendidikan, baik kepada peserta didik, praktisi pendidikan, dan seluruh
bagian yang terintegrasi dan sinergis dengan institusi maupun lingkungan
pendidikan. Tiadanya ketulusan dalam perjalanan pendidikan, akan melahirkan
kegagalan pencapaian tujuan pendidikan. Nabi Muhammad SAW telah menyebutkan,
“Sesungguhnya Allah hanya akan menolong umat
ini dengan orang-orang yang lemah di antara mereka, dengan doa mereka, shalat
mereka, dan keikhlasan mereka.” [Shahih Al-Bukhari no. 2896; Shahih Al-Jami’
no. 2388]
3)
Materi yang pertama diajarkan kepada peserta
didik adalah materi fundamental, seperti pengenalan huruf-huruf, operasi
hitung, cara menulis, bahasa, baik bahasa lokal maupun asing, dan sebagainya,
yang menjadi alat dan modal awal untuk proses belajar ke depan. Ini tampak pada
aksentuasisasi yang dilakukan Rasulullah sebagai seorang manajer pendidikan
ketika di masa awal Islam dimana beliau melakukan tashfiyyah atau purifikasi
ideologi jahiliyyah (ignorance ideology) dan materi pendidikan yang mengalami
penyimpangan (deviation), yang telah mendarah daging pada mayoritas masyarakat
sosial Arab kala itu.
Yang pertama kali Nabi
Muhammad sosialisasikan adalah materi tentang keimanan, sebab hal itulah yang
paling mendasar dalam konstruksi agama Islam. Manajerisasi seperti ini juga
diterapkan oleh generasi-generasi berikutnya, seperti tersurat dalam penuturan
Jundub, “Kami belajar tentang iman sebelum belajar Al-Qur`an, kemudian belajar
Al-Qur`an sehingga dengannya bertambahlah iman kami.” [Syu’ab Al-Iman 1/76]
Dari sini didapatkan
point lanjut, bahwa dalam proses pendidikan, sistem jenjang dan prioritisasi
menjadi sangat berarti bagi keberhasilan manajemen pendidikan. Tanpa sistem
jenjang akan ditemukan kesulitan untuk mengetahui pencapaian, dan tanpa prioritisasi
akan menimbulkan kesemrawutan dan kemandegan intelektual. Kita sangat berterima
kasih kepada para pendahulu kita atas jasa-jasa mereka yang telah melakukan
formalisasi materi pendidikan lewat manajemen kurikulum, yang karenanya kita
bisa mudah menjalankan kegiatan pendidikan.
4)
Berpegang pada metode ilmiah dengan
menggunakan sarana berpikir ilmiah, dengan berlandaskan hujjah (bukti yang
valid), melalui penelusuran yang intensif dan kontinu. Prinsip ini memiliki
peranan penting dalam menjaga kemurnian ilmu dari kontaminasi hal-hal yang
bukan ilmu. Karena ilmu adalah pengetahuan pengetahuan yang lahir dari akal
sehat yang terdidik, melalui metode ilmiah dengan berbekal sarana berpikir
ilmiah, berdasarkan empirisme dan rasionalisme, secara induktif dan deduktif.
Perlu
dipahami, definisi ilmu yang menetapi konsep filsafat ilmu seperti ini bukan
berarti menyingkirkan Islam dalam ranah ilmu. Agama di mata pemeluknya pasti
akan dianggap sebagai ilmu yang paling fundamental. Ilmu yang didefinisikan
tersebut adalah ilmu duniawi yang memang pada dasarnya bersifat fluktuatif,
bermula dari ketiadaan, lalu mengalami akumulasi dari berbagai paradigma para
ilmuwan, kemudian berkulminasi, dan suatu saat dapat ditinggalkan ketika
dianggap telah tidak relevan. Sedangkan Islam diperoleh manusia tanpa melalui
tahapan-tahapan panjang seperti yang dialami ilmu manusia, melainkan langsung
dari Allah, Sang Maha Ilmu.
5)
Menjadikan tujuan pendidikan terfokus pada
pembentukan pribadi prestatif. Prestatif, dalam hemat kami, adalah suatu pencapaian
personal maupun komunal sehingga peserta didik mampu membawa peradaban ke arah
perbaikan. Jadi pendidikan itu semestinya bertujuan untuk mencetak generasi
yang bisa membawa bangsanya untuk menjadi generasi yang menetapi nilai-nilai
positif universal dan doktrinal. Apalah artinya, program-program pendidikan
dicanangkan begitu melambung, dengan biaya yang tinggi, tapi malah menelorkan
pribadipribadi yang bisanya hanya mendekonstruksi bangsanya, dengan
moral-moralnya yang rendah, walaupun intelektualnya tinggi.
Di
sinilah terlihat nilai vital keberadaan pendidikan karakter dan harmonisasi IQ
(Intelectual Quotient), EQ (Emotional Quotient), dan SQ (Spiritual Quotient).
Maka, dalam proses pendidikan, harus pula ada alokasi dana, media, maupun waktu
untuk pelaksanaan pendidikan karakter dan harmonisasi ketiga kecerdasan insan
ini, demi mencapai tujuan pendidikan.
Belajar
dari Pendahulu
Lima
dasar manajemen pendidikan inilah yang menjadi modal awal dan fundamental yang
telah dieksplorasi oleh generasi-generasi Muslim, dan hasilnya telah dilihat
dan diakui oleh dunia. Dalam The Reconstruction of Religious Thought in Islam,
Muhammad Iqbal mengatakan, peradaban Islam yang berkembang di Arab berhasil
mendorong berkembangnya ilmu pengetahuan dengan begitu pesat di saat Barat
dikungkung kebodohan. Pada masa itu, umat Islam sudah memperkenalkan metode
eksperimental, observasi, dan pemikiran
Orientalis
asal Skotlandia, William Montgomery Watt, pernah secara jujur mengungkapkan
bagaimana Barat sangat berhutang budi pada Islam, khususnya dalam pengembangan
ilmu pengetahuan. Montgomery yang menyandang gelar “Emiritus Professor”, gelar
penghormatan tertinggi untuk seorang ilmuwan, sangat tekun melakukan
penelitiannya tentang Islam. Khususnya sejarah perkembangan pengetahuan di
dunia Islam. Montgomery secara jujur mengakui, perkembangan ilmu pengetahuan
yang kini berkembang pesat di Barat dan Eropa, sesungguhnya sebagian besar
telah banyak ditemukan kaum Muslim sebelumnya.
Dr.
Fuat Sezgin, dari Institut Sejarah Sains Arab-Islam, Universiti Johann
Wolfgang, Goethe, Frankfurt, Jerman, menegaskan, kehebatan ilmuwan Islam
ratusan abad silam adalah kehebatan yang tidak ternilai (karena saking
hebatnya). Pada abad kegemilangan Islam banyak orang-orang Eropa yang belajar
untuk menuntut ilmu di berbagai cabang pengetahuan dari para pakar Islam.
Tetapi setelah zaman kegelapan datang, banyak pula hasil-hasil ilmuwan tersebut
yang juga diselewengkan dan kemudian disebarluaskan dengan informasi yang salah
secara meluas.
Namun, kini umat Islam mulai bangkit, sebagian
Muslim ada yang memimpin di bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan. Sekaranglah
saatnya kita bersinergi meraih apa yang pernah diraih pendahulu kita, ya,
dengan Islam, tidak dengan lainnya.
very good
BalasHapusmateri yang disajikan sngat membantu
BalasHapussngat membantu
BalasHapusnice good
BalasHapussangat bagus
BalasHapusvery good
BalasHapussangat bermanfaat
BalasHapusnice lebih di tingkatkan lagi
BalasHapussngat bagus materi yang di sajikan
BalasHapusgood joob
BalasHapussngat bagus
BalasHapusbaik sekli untuk adik adik metrinta bos
BalasHapusmaterinya bagus sekali ka
BalasHapusmateri ini sangat bagus
BalasHapussngat bagus bro. tingktakan
BalasHapussmoga sukses
konten ini cukup bermanfaat
BalasHapusmateri ini sangat membantu
BalasHapusnice
BalasHapussngat bagus bro
BalasHapusmaterinya sngat bermanfaat
BalasHapusalhamdulillah sangat membantu bagi saya
BalasHapusNICE
BalasHapussangat membantu jadi bahan bacaan skaligus referensi.. terimakasih 🙂
BalasHapusSemoga Allah menambah Ilmu dan wawasan kita dan membukakan pintu2 ilmu lainnya.. Aamin
Salam
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapussangat bermanfaat
BalasHapusBermanfaat
BalasHapusSangat bagus
BalasHapus