Senin, 02 Desember 2019

MANAJEMEN PENDIDIKAN DALAM PERPEKTIF ISLAM



Hasil gambar untuk gambar manajemen dalam perspektif islam



Sebagai satu-satunya agama yang komprehensif dan universal, Islam telah membangun pilarpilar konstruksi ilmu manajemen pendidikan yang sangat imperatif bagi kehidupan konkret sosial-kemasyarakatan secara holistik. Diyakini oleh seluruh Muslim, lintas generasi dan wilayah, bahwa pelopor manajer pendidikan terbaik adalah Rasulullah, sebagaimana telah diutarakan oleh Mu’awiyah bin Al-Hakam, “Aku tidak pernah melihat seorang pendidik sebelum dan sesudahnya yang lebih baik darinya.” [Shahih Muslim no. 836]
Rasulullah Muhammad SAW telah meneladankan bagaimana manajemen pendidikan yang baik lagi konstruktif bagi peradaban. Hingga Allah SWT secara langsung memberikan rekomendasi kepada umat Islam.
 “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmah) Allah dan (kedatangan) hari qiyamah dan dia banyak menyebut Allah.” [Al-Qur`an surah Al-Ahzab ayat no. 21]
Sufyan bin ‘Uyainah Al-Makki yang menyadari akan urgensitas eksistensi Rasulullah Muhammad dalam segala sendi kehidupan, kemudian menetapkan Rasulullah sebagai standar terbesar, “Sesungguhnya Rasulullah adalah standar terbesar. Segala sesuatu (harus) ditimbang berdasarkan akhlak, sirah dan petunjuk beliau. Semua yang sesuai dengannya, itulah kebenaran, dan yang menyelisihinya, itulah kebatilan.” [Tadzkirat As-Sami’ wa Al-Mutakallim, Ibnu Jama’ah Al-Kinani, hal. 21]
Ungkapan Ibnu ‘Uyainah ini bukan berarti menutup peluang inovasi. Inovasi selagi tidak bertentangan dengan Islam, Islam tidak melarangnya, terlebih bila kontributif bagi peradaban dan kejayaan Islam, dan inovasi tersebut tidak mendekonstruksi apalagi mendesakralisasi nilainilai Islam. Ini terefleksi dalam ungkapan terakhir Ibnu ‘Uyainah.

Konsep Dasar-dasar Manajemen Pendidikan dalam Perspektif Islam
 Seperti diutarakan di awal, Islam telah meletakkan dasar-dasar manajerisasi pendidikan, yang mana hal itu tersimpan dengan baik dalam dokumen-dokumen sejarah Islam yang primer dan sekunder, sayang sekali banyak sarjana Muslim, di Indonesia khususnya, yang belum menggali dan mengungkapnya. Bermula dari kesadaran terhadap problem tersebut, di sini akan dipaparkan dasar-dasar manajemen pendidikan dalam nilai-nilai normatif dan historis Islam, yakni antara lain:
1)                  Merujuk kepada literatur-literatur yang kredibel dan akurat. Dengannya akan didapatkan sebuah produk pendidikan yang multidimensional dan polyinterpretabel, sehingga dapat diabstraksikan pada berbagai fragmen manajemen pendidikan. Pendidikan Islam senantiasa merujuk pada dokumen primer yakni Al-Qur`an dan As-Sunnah, dengan tidak mengabaikan peranan dokumen sekunder, seperti atsar, ijma’, qiyas, dan lain sebagainya yang tertera dalam buku-buku para intelektual Muslim awal (Salaf). Hasilnya, output dan outcome pendidikan akan lebih mampu survive dan berkompetisi.
2)                Penanaman keikhlasan dan ketulusan dalam proses pendidikan, baik kepada peserta didik, praktisi pendidikan, dan seluruh bagian yang terintegrasi dan sinergis dengan institusi maupun lingkungan pendidikan. Tiadanya ketulusan dalam perjalanan pendidikan, akan melahirkan kegagalan pencapaian tujuan pendidikan. Nabi Muhammad SAW telah menyebutkan,
Sesungguhnya Allah hanya akan menolong umat ini dengan orang-orang yang lemah di antara mereka, dengan doa mereka, shalat mereka, dan keikhlasan mereka.” [Shahih Al-Bukhari no. 2896; Shahih Al-Jami’ no. 2388]
3)              Materi yang pertama diajarkan kepada peserta didik adalah materi fundamental, seperti pengenalan huruf-huruf, operasi hitung, cara menulis, bahasa, baik bahasa lokal maupun asing, dan sebagainya, yang menjadi alat dan modal awal untuk proses belajar ke depan. Ini tampak pada aksentuasisasi yang dilakukan Rasulullah sebagai seorang manajer pendidikan ketika di masa awal Islam dimana beliau melakukan tashfiyyah atau purifikasi ideologi jahiliyyah (ignorance ideology) dan materi pendidikan yang mengalami penyimpangan (deviation), yang telah mendarah daging pada mayoritas masyarakat sosial Arab kala itu.
Yang pertama kali Nabi Muhammad sosialisasikan adalah materi tentang keimanan, sebab hal itulah yang paling mendasar dalam konstruksi agama Islam. Manajerisasi seperti ini juga diterapkan oleh generasi-generasi berikutnya, seperti tersurat dalam penuturan Jundub, “Kami belajar tentang iman sebelum belajar Al-Qur`an, kemudian belajar Al-Qur`an sehingga dengannya bertambahlah iman kami.” [Syu’ab Al-Iman 1/76]
Dari sini didapatkan point lanjut, bahwa dalam proses pendidikan, sistem jenjang dan prioritisasi menjadi sangat berarti bagi keberhasilan manajemen pendidikan. Tanpa sistem jenjang akan ditemukan kesulitan untuk mengetahui pencapaian, dan tanpa prioritisasi akan menimbulkan kesemrawutan dan kemandegan intelektual. Kita sangat berterima kasih kepada para pendahulu kita atas jasa-jasa mereka yang telah melakukan formalisasi materi pendidikan lewat manajemen kurikulum, yang karenanya kita bisa mudah menjalankan kegiatan pendidikan.
4)                   Berpegang pada metode ilmiah dengan menggunakan sarana berpikir ilmiah, dengan berlandaskan hujjah (bukti yang valid), melalui penelusuran yang intensif dan kontinu. Prinsip ini memiliki peranan penting dalam menjaga kemurnian ilmu dari kontaminasi hal-hal yang bukan ilmu. Karena ilmu adalah pengetahuan pengetahuan yang lahir dari akal sehat yang terdidik, melalui metode ilmiah dengan berbekal sarana berpikir ilmiah, berdasarkan empirisme dan rasionalisme, secara induktif dan deduktif.
Perlu dipahami, definisi ilmu yang menetapi konsep filsafat ilmu seperti ini bukan berarti menyingkirkan Islam dalam ranah ilmu. Agama di mata pemeluknya pasti akan dianggap sebagai ilmu yang paling fundamental. Ilmu yang didefinisikan tersebut adalah ilmu duniawi yang memang pada dasarnya bersifat fluktuatif, bermula dari ketiadaan, lalu mengalami akumulasi dari berbagai paradigma para ilmuwan, kemudian berkulminasi, dan suatu saat dapat ditinggalkan ketika dianggap telah tidak relevan. Sedangkan Islam diperoleh manusia tanpa melalui tahapan-tahapan panjang seperti yang dialami ilmu manusia, melainkan langsung dari Allah, Sang Maha Ilmu.
5)                   Menjadikan tujuan pendidikan terfokus pada pembentukan pribadi prestatif. Prestatif, dalam hemat kami, adalah suatu pencapaian personal maupun komunal sehingga peserta didik mampu membawa peradaban ke arah perbaikan. Jadi pendidikan itu semestinya bertujuan untuk mencetak generasi yang bisa membawa bangsanya untuk menjadi generasi yang menetapi nilai-nilai positif universal dan doktrinal. Apalah artinya, program-program pendidikan dicanangkan begitu melambung, dengan biaya yang tinggi, tapi malah menelorkan pribadipribadi yang bisanya hanya mendekonstruksi bangsanya, dengan moral-moralnya yang rendah, walaupun intelektualnya tinggi.
Di sinilah terlihat nilai vital keberadaan pendidikan karakter dan harmonisasi IQ (Intelectual Quotient), EQ (Emotional Quotient), dan SQ (Spiritual Quotient). Maka, dalam proses pendidikan, harus pula ada alokasi dana, media, maupun waktu untuk pelaksanaan pendidikan karakter dan harmonisasi ketiga kecerdasan insan ini, demi mencapai tujuan pendidikan.

Belajar dari Pendahulu
Lima dasar manajemen pendidikan inilah yang menjadi modal awal dan fundamental yang telah dieksplorasi oleh generasi-generasi Muslim, dan hasilnya telah dilihat dan diakui oleh dunia. Dalam The Reconstruction of Religious Thought in Islam, Muhammad Iqbal mengatakan, peradaban Islam yang berkembang di Arab berhasil mendorong berkembangnya ilmu pengetahuan dengan begitu pesat di saat Barat dikungkung kebodohan. Pada masa itu, umat Islam sudah memperkenalkan metode eksperimental, observasi, dan pemikiran
Orientalis asal Skotlandia, William Montgomery Watt, pernah secara jujur mengungkapkan bagaimana Barat sangat berhutang budi pada Islam, khususnya dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Montgomery yang menyandang gelar “Emiritus Professor”, gelar penghormatan tertinggi untuk seorang ilmuwan, sangat tekun melakukan penelitiannya tentang Islam. Khususnya sejarah perkembangan pengetahuan di dunia Islam. Montgomery secara jujur mengakui, perkembangan ilmu pengetahuan yang kini berkembang pesat di Barat dan Eropa, sesungguhnya sebagian besar telah banyak ditemukan kaum Muslim sebelumnya.
Dr. Fuat Sezgin, dari Institut Sejarah Sains Arab-Islam, Universiti Johann Wolfgang, Goethe, Frankfurt, Jerman, menegaskan, kehebatan ilmuwan Islam ratusan abad silam adalah kehebatan yang tidak ternilai (karena saking hebatnya). Pada abad kegemilangan Islam banyak orang-orang Eropa yang belajar untuk menuntut ilmu di berbagai cabang pengetahuan dari para pakar Islam. Tetapi setelah zaman kegelapan datang, banyak pula hasil-hasil ilmuwan tersebut yang juga diselewengkan dan kemudian disebarluaskan dengan informasi yang salah secara meluas.
 Namun, kini umat Islam mulai bangkit, sebagian Muslim ada yang memimpin di bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan. Sekaranglah saatnya kita bersinergi meraih apa yang pernah diraih pendahulu kita, ya, dengan Islam, tidak dengan lainnya.

Rabu, 13 November 2019

PERSPEKTIVITAS MANAJEMEN PENDIDIKAN


Adapun tujuan dari meteri yang saya berikan yakni untuk membuka pemikiran khlayak tentang bagaimana perpektivitas dari manajemen pendidikan itu sendiri, agar bisa megetahui secara langsung apa itu manjemen pendidikan

Hasil gambar untuk gambar manajemen pendidikan
Sekilas gambaran singkat tentang manjemen pendidikan


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Manajemen pendidikan adalah keseluruhan (proses) yang membuat sumber-sumber personil dan materiil sesuai yang tersedia dan efektif bagi tercapainya tujuan-tujuan bersama. Ia mengerjakan fungsi-fungsinya dengan jalan mempengaruhi perbuatan orang-orang. Proses ini meliputi perencanaan, organisasi, koordinasi, pengawasan, penyelenggaraan dan pelayanan dari segala sessuatu mengenai urusan sekolah yang langsung berhubungan dengan pendidikan seklah seperti kurikulum, guru, murid, metode-metode, alat-alat pelajaran, dan bimbingan. Juga soal-soal tentang tanah dan bangunan sekolah, perlengkapan, pembekalan, dan pembiayaan yang diperlukan penyelenggaraan pendidikan termasuk didalamnya.
B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka yang menjadi rumusan masalahnya adalah bagaimana perspektivitas manajemen pendidikan.
C.  Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui perspektivitas manajemen pendidikan

BAB II
PEMBAHASAN
A.  Latar Belakang Manajemen Pendidikan
Manajemen pendidikan dimasukan sebagai bidang studi itu dimulai di Amerika Serikat pada awal abad kedua puluh. Di Inggris sendiri baru datang hingga akhir tahun 1960-an. Seperti namanya, manajemen pendidikan beroperasi di organisasi atau lembaga yang mengurusi pendidikan. Karena lingkup pendidikan itu luas, manajemen pendidikan bermacam-macam definisi bergantung dengan lingkup yang digunakan. Namun secara umum bisa didefinisakan sebagai usaha kompleks yang mengelola berbagai sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
Pada dasarnya suatu organisasi sosial pasti ada hubungan antar manusia yang memainkan peran utama. Karenanya harus ada kebebasan dan fleksibilitas yang memadai disatu sisi serta diperlukan disiplin dan kesopanan di sisi lain lembaga pendidikan.Artinya manajemen pendidikan menerapkan tindakan praktis untuk memastikan sistem bekerja dan mencapai tujuan dari sebuah institusi pendidikan.
B.  Pengertian Manajemen Pendidikan
Manajemen pendidikan adalah suatu proses dari perencanaan, penorganisasian, pengarahan, pengawasan, dan penilaian usaha-usaha pendidikan supaya dapat mencapai tujuan pendidikan yang telah di tetapkan sebelumnya. Definisi manajemen pendidikan yang lainnya yaitu merupakan suatu bentuk kerjasama antar pihak-pihak pendidikan demi pencapai target pendidikan yang telah di tetapkan sebelumnya.Yang menjadi tujuan umum dalam manajemen pendidikan adalah melaksanakan pembentukan kepribadian pelajar yang berdasarkan dengan tujuan dari pendidikan nasional dan tingkat perkembangan maupun perbaikan untuk usia pendidikan.
Berikut ini adalah definisi pengertian manajemen pendidikan menurut ahlinya berdasarkan hasil risetnya.
1)   Mulyasa (2002:19)
Pengertian manajemen pendidikan menurut Mulyasa adalah segala sesuatu yang berkenaan dengan pengollan proses pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, baik tujuan jangka pendek, menengah, maupun tujuan jangka panjang.
2)   H. A. R Tilaar (2001:4)
Pengertian manajemen pendidikan menurut H.A.R Tilaar adalah suatu kegiatan yang mengimplementasikan perencanaan atau rencana pendidikan.
3)   Purwanto Dan Djojopranoto (1981:14)
Pengertian manajemen pendidikan menurut Purwanto dan Djojopranoto adalah suatu usaha bersama yang dilakukan untuk mendayagunakan semua sumber daya baik manusia, uang, bahan dan peralatan serta metode untuk mencapai tujuan pendidikan serca efektif dan efisien.
C.  Prinsip-prinsip Manajemen Pendidikan
Dalam manajemen terdapat prinsip-prinsip yang merupakan pedoman umum atau pegangan utama pelaksanaan aktivitas managerial, yang menentukan kesuksesan pengelolaan organisasi.Prinsip Manajemen Pendidikan adalah asas kebenaran yang menjadi pokok dasar dalam berfikir untuk sebuah proses perencanaan, peng-organisasian, memimpin, mengendalikan tenaga pendidikan, sumber daya pendidikan guna mencapai tujuan pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan.
Douglas (1963:13-17) merumuskan prinsip-prinsip manajemen pendidikan sebagai berikut :
1.        Memprioritaskan tujuan diatas kepentingan pribadi dan kepentingan mekanisme kerja.
2.        Mengkoordinasikan wewenang dan tanggung jawab
3.        Memberikan tanggung jawab pada personil sekolah hendaknya sesuai dengan sifat-sifat dan kemampuannya
4.        Mengenal secara baik faktor-faktor psikologis manusia
5.        Relativitas nilai-nilai
Prinsip-prinsip diatas memiliki esensi bahwa manajemen dalam ilmu dan praktiknya harus memperhatikan tujuan, orang-orang, tugas-tugas, dan nilai-nilai. Tujuan dirumuskan dengan tepat sesuai dengan arah organisasi, tuntutan zaman, dan nilai-nilai yang berlaku. Tujuan suatu organisasi dapat dijabarkan dalam bentuk visi, misi dan sasaran-sasaran. Ketiga bentuk tujuan itu harus dirumuskan dalam satu kekuatan tim yang memiliki komitmen terhadap kemajuan dan masa depan organisasi.
Drucker (1954) melalui MBO (management by objective) memberikan gagasan prinsip manajemen berdasarkan sasaran sebagai suatu pendekatan dalam perencanaan. Penerapan pada manajemen pendidikan adalah bahwa kepala dinas memimpin tim yang beranggotakan unsur pejabat dan fungsional dinas, dan lebih baik terapat stakeholders untuk merumuskan visi, misi dan objektif dinas pendidikan.
D.  Unsur-unsur Manajemen Pendidikan
1.    Human (manusia, orang-orang, tenaga kerja)
Tenaga kerja ini meliputi baik tenaga kerja eksekutif maupun operatif. Dalam kegiatan manajemen faktor manusia adalah yang paling menentukan. Titik pusat dari manajemen adalah manusia, sebab manusia membuat tujuan dan dia pulalah yang melakukan proses kegiatan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkannya itu. Tanpa tenaga kerja tidak akan ada proses kerja. Hanya saja manajemen itu sendiri tidak akan timbul apabila setiap orang bekerja untuk dirinya sendiri saja tanpa mengadakan kerjasama dengan yang lain. Manajemen timbul karena adanya orang yang bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama.
2.    Money (uang yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan yang diinginkan)
Uang merupakan unsur yang penting untuk mencapai tujuan disamping faktor manusia yang menjadi unsur paling penting (the most important tool) dan faktor-faktor lainnya. Dalam dunia modern yang merupakan faktor yang penting sebagai alat tukar dan alat pengukur nilai suatu usaha. Suatu perusahaan yang besar diukur pula dari jumlah uang berputar pada perusahaan itu. Tetapi yang menggunakan uang tidak hanya perusahaan saja, instansi pemerintah dan yayasan-yayasan juga menggunakannya. Jadi uang diperlukan pada setiap kegiatan manusia untuk mencapai tujuannya. Terlebih dalam pelaksanaan manajemen ilmiah, harus ada perhatian yang sungguh-sungguh terhadap faktor uang karena segala sesuatu diperhitungkan secara rasional yaitu memperhitungkan berapa jumlah tenaga yang harus dibayar, berapa alar-alat yang dibutuhkan yang harus dibeli dan berapa pula hasil yang dapat dicapai dari suatu investasi.
3.    Machines (mesin atau alat-alat yang diperlukan untuk mencapai tujuan)
Dalam setiap organisasi, peranan mesin-mesin sebagai alat pembantu kerja sangat diperlukan. Mesin dapat meringankan dan memudahkan dalam melaksanakan pekerjaan. Hanya yang perlu diingat bahwa penggunaan mesin sangat tergantung pada manusia, bukan manusia yang tergantung atau bahkan diperbudak oleh mesin. Mesin itu sendiri tidak akan ada kalau tidak ada yang menemukannya, sedangkan yang menemukan adalah manusia. Mesin dibuat adalah untuk mempermudah atau membantu tercapainya tujuan hidup manusia.
4.    Methods ( metoda atau cara yang digunakan dalam usaha mencapai tujuan).
Cara , penggerakan, dan pengawasan. Dengan cara kerja yang baik akan memperlancar dan memudahkan pelaksanaan pekerjaan. Tetapi walaupun metode kerja yang telah dirumuskan atau ditetapkan itu baik, kalau orang yang diserahi tugas pelaksanaannya kurang mengerti atau tidak berpengalaman maka hasilnya juga akan tetap kurang baik. Oleh karena itu hasil penggunaan/penerapan suatu metode akan tergantung pula pada orangnya.
5.    Materials (bahan atau perlengkapan yang diperlukan untuk mencapai tujuan)
Manusia tanpa material atau bahan-bahan tidak akan dapat mencapai tujuan yang dikehendakinya, sehingga unsur material dalam manajemen tidak dapat diabaikan.
6.    Market (pasar untuk menjual output/barang yang dihasilkan).
Bagi suatu perusahaan, pemasaran produk yang dihasilkan sudah barang tentu sangat penting bagi kelangsungan proses produksi dari perusahaan itu sendiri. Proses produksi suatu barang akan berhenti apabila barang-barang yang diproduksi itu tidak laku atau tidak diserap oleh konsumen. Dengan perkataan lain pasar sangat penting untuk dikuasai demi kelangsungan proses kegiatan perusahaan atau industri. Oleh karena itu penguasaan pasar untuk mendistribusikan hasil-hasil produksi agar sampai kepada konsumen merupakan hal yang menentukan dalam aktivitas manajemen. Agar pasaran dapat dikuasai maka kualitas dan harga barang harus sesuai dengan selera dan daya beli konsumen. Barang yang berkualitas rendah dengan harga yang relatif mahal tidak akan laku dijual. Hal diatas adalah penggunaan pasar dalam dunia perniagaan. Adapun dalam administrasi Negara, yang menjadi pasar adalah masyarakat (publik) secara keseluruhan, sedangkan yang menjadi produknya adalah berupa pelayanan dan jasa (service). Apabila rakyat atau masyarakat telah merasakan pelayanan yang sebaik-baiknya dari pemerintahnya maka rakyat akan pula memberikan kerjasama dengan sebaik-baiknya atau dengan perkataan lain mendukungnya sehingga pemerintahan dapat berjalan dengan stabil.
7.    Information (Informasi)
Tentu saja informasi sangat  yang sedang disukai, apa yang sedang terjadi di masyarakat, dsb. Manajemen informasi sangat penting juga dalam menganalis produk yang telah dan akan dipasarkan.
Ketujuh unsur manajemen tersebut lebih dikenal dengan sebutan 6 M + I , yaitu man,  money,  materialmachine,  method, market dan information. Setiap unsur tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Manajemen tidak dapat berjalan dengan baik tanpa adanya ketujuh unsur tersebut.
Sementara ituunsur-unsur pendidikan sendiri,prosesnya melibatkan banyak hal yaitu:
a.    Subjek yang dibimbing (peserta didik).
b.    Orang yang membimbing (pendidik)
c.    Interaksi antara peserta didik dengan pendidik (interaksi edukatif)
d.   Ke arah mana bimbingan ditujukan (tujuan pendidikan)
e.    Pengaruh yang diberikan dalam bimbingan (materi pendidikan)
f.     Cara yang digunakan dalam bimbingan (alat dan metode)
g.    Tempat dimana peristiwa bimbingan berlangsung (lingkungan pendidikan)
E.  Fungsi Manajemen Pendidikan
Fungsi manajemen pendidikan adalah elemen-elemen dasar yang akan selalu ada dan melekat di dalam proses manajemen yang akan dijadikan acuan oleh manajer dalam melaksanakan kegiatan pendidikan untuk mencapai tujuan yang efektif dan efisien. Dalam Manajemen terdapat fungsi-fungsi manajemen yang terkait erat di dalamnya.
Manajemen pendidikan memiliki fungsi yang sama dengan fungsi manajemen secara umum yaitu perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan. Namun dalam manajemen pendidikan fungsi manajemen tersebut lebih spesifik menangani bidang pendidikan. Berikut penjelasan mengenai fungsi-fungsi manajemen pendidikan :
1.    Perencanaan
Pelaksanaan perencanaan diatur dan disesuaikan dengan sumber daya yang dimiliki. Pada dunia pendidikan perencanaan disusun untuk mengarahkan pada tujuan pendidikan secara menyeluruh dan menggunakan metode terbaik untuk meraihnya. Hasil dari perencanaan dapat  berupa peta kerja dalam pencapaian tujuan seperti rencana strategis lembaga pendidikan dalam pencapaian visi dan misi, rencana pembelajaran semester (RPS), kurikulum dan silabi mata pelajaran/kuliah, dan lainya. 
2.    Pengorganisasian
Fungsi pengorganisasian dalam manajemen pendidikan memiliki tujuan untuk membagi tugas besar menjadi aktivitas yang lebih sederhana. Fungsi ini memudahkan dalam pelaksanaan pengawasan dan dalam penentuan jumlah dan kualifikasi sumber daya yang diperlukan. Pengorganisasian dalam manajemen pendidikan contohnya adalah menyusun apa saja yang dibutuhkan lembaga pendidikan, berapa tenaga pengajar dan karyawan yang dibutuhkan, tenaga pengajar di bidang apa saja yang diperlukan, dan lain-lain.
3.    Pengarahan
Setelah pengorganisasian kemudian dilakukan pengarahan terhadap berbagai sumberdaya khususnya sumber daya manusia untuk melakukan tanggung jawab yang sesuai dengan tujuan. Pada intinnya pengarahan merupakan proses menggerakkan orang untuk menjalankan aktivitas dalam rangka meraih tujuan sehingga tercipta efisiensi dan efektifitas.
4.    Pengawasan
Kegiatan penilaian kinerja yang mengacu pada perencanaan yang telah disusun bersama sebelumnya. Tujuan dari pengawasan adalah untuk menjamin kegiatan yang sedang dilaksanakan agar sesuai dengan tujuan. Selain itu memberikan penilaian terhadap kegiatan yang telah dilaksanakan supaya menjadi masukan perbaikan di masa mendatang. Contoh evaluasi dalam manajemen pendidikan adalah melakukan evaluasi pembelajarn terhadap siswa, mengadakan jejak pendapat tentang sistem pendidikan yang ada si suatu lembaga pendidikan.
F.   Tujuan Belajar Manajemen Pendidikan
Tujuan belajar dalam kajian manajemen pendidikan antara lain:
1)   Efisien dalam menggunakan sumber daya.
Dengan mempelajari manajemen pendidikan dengan baik, diharapkan seseorang dapat mengelola sumber daya secara efisien, misalnya sumber daya yang berupa pembiayaan, waktu dan lain sebagainya.
2)   Efektif dalam pencapaian tujuan.
Dengan mempelajari manajemen pendidikan secara berkesinambungan dan secara sungguh-sungguh, diharapkan seseorang dapat mengefektifkanproses dan sumber daya yang dikelola untuk mencapai tujuan dengan optimal.
3)   Bermuara pada tujuan pendidikan.
Tujuan manajemen pendidikan tidak akan lepas dari tujuan pendidikan nasional, yaitu  bertujuan untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
4)   Mendukung kegiatan pendidikan dalam upaya mencapai tujuan  pendidikan.
Manajemen pendidikan juga mendukung dan memfasilitasi kegiatan pendidikan baik secara langsung maupun tidak langsung. Kegiatan pendidikan yang didukung dengan manajemen pendidikan yang baik, akan mendapatkan hasil yang baik sehingga tujuan pendidikan yang ditargetkan dapat tercapai

BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Dari berbagai penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwamanajemen pendidikan dapat disimpulkan sebagai tahap yang paling penting sebagai merancang program, dan berbagai keputusan lain dalam sebuah organisasi pendidikan.Dengan adanya manajemen tersebut, kegiatan di ranah pendidikan dapat berjalan lebih terstruktur dan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Prinsip Manajemen Pendidikan adalah asas kebenaran yang menjadi pokok dasar dalam berfikir untuk sebuah proses perencanaan, peng-organisasian, memimpin, mengendalikan tenaga pendidikan, sumber daya pendidikan guna mencapai tujuan pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan.
B.  Saran
Dengan selesainya makalah ini, disarankan kepada pembaca agar dapat menggunakan makalah ini dengan sebaik-baiknya, untuk menambah pengetahuan bagi para pembaca, khsusnya untuk mata kuliah ekonomi pendidikan dan juga dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari

DAFTAR PUSTAKA
Siswanto, Pengantar Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. 2011.
Fattah, Nanang. 2000. Landasan ManajemenPendidikan. Bandung : PT. RemajaRosdakarya.
Suharsimi Arikunto dan Lia Yuliana, Manajemen Pendidikan Edisi kesatu. (Yogyakarta: Aditya Media, 2008). Hal. 215-216



MANAJEMEN PENDIDIKAN DALAM PERPEKTIF ISLAM

Sebagai satu-satunya agama yang komprehensif dan universal, Islam telah membangun pilarpilar konstruksi ilmu manajemen pendidikan y...